Kekacauan Di Indonesia Lawyers Club: “Anas Siap Digantung Di Monas”

Kemarin malam  sebuah acara diskusi publik yang biasa mengangkat kasus-kasus aktual di sebuah televisi swasta nasional, Indonesia Lawyers Club kembali di gelar dengan tajuk “Anas Siap Digantung di Monas”. Episode kali ini membuat jantung masyarakat berdegup-degup penuh haru dan rasanya mau copot, bukan karena terpesona oleh ucapan dan pengakuan dari para pembicara yang sudah mumpuni di bidangnya masing-masing terutama soal hukum. namun yang terjadi adalah jantung serasa mau copot dibuatnya karena tidak sanggup menahan malu ketika anggota dewan dan seorang pengacara saling hina dan cela diruang publik.
Berjalannya acara sudah terlihat agak menjurus dalam “kekacauan” ketika Tridiyanto anggota DPC Partai Demokrat Cilacap, yang mengaku dekat dan mengenal dengan baik sosok Nazarudin, kerap kali menjawab hal-hal diluar konteks dari apa yang ditanyakan oleh host acara Karni Ilyas. Bahkan ketika ditanya oleh salah seorang tim kuasa hukum Nazarudin, Tridiyanto terlihat agak gugup dan malah membela diri dengan menuding, seolah-olah semua orang yang hadir di ILC ingin menghakimi dan mengeroyok dirinya seputar pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya terkait kedekatannya dengan M.Nazarudin. Setelah itu barulah I Gede Pasek Suardika dari DPP Partai Demokrat meakukan pembelaan dan pengklarifikasian atas posisi Tridiyanto sebagai orang yang pernah dekat dengan Nazarudin, membantah semua tudingan nazarudin kepada ketua umum partai demokrat  Anas Urbaningrum. Dia mengatakan bahwa semua tudingan yang dialamatkan kepada Anas Urbaningrum sangat tidak mendasar.
Begitulah kira-kira gambaran jalannya diskusi yang terjadi saat “kekacauan” sebenarnya belum terjadi, sungguh bingung ketika itu saya mendengar semua pendapat yang ada. bahkan kadang pembicaraan yang dibahas malah tidak fokus dan menjalar kemana-mana di luar konteks pembahasan.
Kekacauan yang sebenarnya baru dimulai ketika mikrofon berpindah tangan ke ruhut sitompul, politisi nyeleneh Partai Demokrat yang terkenal dengan gayanya ketika bicara dan celetukan yang dibuatnya ini ketika menyatakan pendapat, walaupun terkadang menyakitkan hati yang mendengarnya dan membuat geram kepada siapapun yang tidak setuju kepadanya. alhasil ketika sesaat ruhut sitompul mengeluarkan statement-statementnya kemudian di potong oleh Hotman Paris Hutapea, tim Pengacara Nazarudin cs. Disitulah polemik saling hina dan ejek yang sungguh sangat tidak pantas menjadi konsumsi publik, terlebih lagi tayangan dilakukan secara langsung dan ditonton oleh jutaan rakyat indonesia. seharusnya tanpa memandang masyarakat luas yang menontonpun sudah seharusnya, apapun prodfesi yang kita geluti, harus memiliki etika dan moral yang baik sehingga bisa menjadi contoh bagi orang lain.
Jantung serasa mau copot ketika berkali-kali Host Karni Ilyas berusaha menengahi perselisihan yang terjadi, namun tetap saja kedua orang pejabat publik tersebut masih saja mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk didengar….. Saya benar-benar geram terhadap ulah para pengacara dan politisi ini, melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan diruang publik.
memang sudah bukan rahasia lagi bila kadang acara yang di bawakan oleh host Karni Ilyas ini kerap mendapatkan cibiran dari masyarakat, karena hal-hal yang seperti ini (pembicaraan yang tidak jelas), dan bahkan cenderung kasar dan diluar norma kesopanan yang ada dimasyarakat. malah program Indonesia Lawyers Club di nobatkan menjadi program paling banyak mendapatkan pengaduan dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), terkait dengan isi dan tampilan acara yang dibawakannya. dalam memimpin acara dengan peserta para lawyer yang *katanya pintar bersilat lidah ini, memang harus memiliki banyak strategi dan taktik agar para lawyers yang “bringas” ini dapat melakukan pembicaraan yang lebih konstruktif dalam bingkai penegakkan hukum di indonesia.  tetapi fakta telah berbicara lain, berbagai hal memalukan terlalu seringm uncul dalam forum-forum ini, sehingga mayoritas orang yang hadir pada malam itu seolah-olah mendapatkan penilaian yang sama dari publik, yaitu sama-sama *bejatnya. Padahal tidak, bila anda lihat dan dengar komentar dan analisa dari Iwan Piliang dan Fajroel Rahman setidaknya dapat memberikan muatan dan isi yang lebih positif bagi diskusi yang kering wawasan selama lebih dari 2 jam tersebut. Semoga kita senantiasa memngawasi keluarga kita dari tontonan yang tidak bermanfaat untuk diri dan keluarga.

Posted on 14 Maret 2012, in anas urbaningrum, BERITA, POLITIK. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: